Info Perizinan

Petunjuk FRB



     

 

PETUNJUK PELAKSANAAN

RAPAT KOORDINASI FORUM RAPAT BERSAMA (PRA FRB)  

 

I.    UMUM

A.   Dasar Hukum

Peraturan Menteri Kominfo Nomor 28 Tahun 2008 Tentang Tata Cara dan Persyaratan Perizinan Penyelenggaraan Penyiaran.

B.   Maksud dan Tujuan

Pra FRB adalah suatu wadah koordinasi antara Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Pemerintah dalam rangka persiapan pelaksanaan Forum Rapat Bersama untuk mengevaluasi persyaratan administrasi dan data teknik penyiaran, ketersediaan kanal frekuensi serta penentuan jadwal FRB. Hasil Pra FRB selanjutnya sebagai bahan pertimbangan pembahasan dalam FRB.

 

II.    PESERTA DAN LOKASI RAPAT KOORDINASI FORUM RAPAT BERSAMA (PRA FRB)

A.   Peserta

1.        Peserta Pra FRB terdiri dari Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI):

2.        Unsur Kementerian Komunikasi dan Informatika terdiri :

a.    Ditjen PPI

b.    Ditjen SDPPI; dan

c.    Unsur Pemerintah Provinsi yang ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang komunikasi dan informatika.

3.        Unsur KPI terdiri dari :

a.    KPI Pusat; dan

b.    KPI Daerah terkait

c.    Apabila KPI Daerah belum terbentuk atau tidak dapat menjalankan fungsinya sesuai peraturan perundang-undangan maka unsur KPI Daerah diwakili oleh KPI Pusat.

B.   Lokasi

Pra FRB dapat dilaksanakan di Jakarta atau di daerah lain dalam wilayah Indonesia.

 

III. PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PRA FRB

A.   PENERIMAAN RK DAN BERKAS PERMOHONAN

1.     KPID menyampaikan RK dan berkas permohonan kepada KPI Pusat.

2.     KPI Pusat memeriksa RK dan berkas permohonan, kemudian jika lengkap akan meneruskan kepada Menteri dengan surat pengantar. Jika tidak lengkap, RK dan berkas permohonan akan dikembalikan ke KPID.

3.     Menteri menetapkan waktu pelaksanaan Pra FRB selambat-lambatnya 1 bulan setelah RK dan berkas permohonan diterima Kominfo.

4.     Ditjen PPI menyiapkan data lembaga penyiaran yang akan dibahas dalam Pra FRB dalam bentuk Matriks dan disampaikan kepada Ditjen SDPPI dan KPI selambat-lambatnya 1 (satu) minggu sebelum pelaksanaan Pra FRB.

 

B.   PELAKSANAAN PRA FRB

1.    Permohonan yang dibahas dalam Pra FRB adalah permohonan yang telah diterima Kominfo dari KPI Pusat sekurang-kurangnya 30 hari kerja sebelum pelaksanaan Pra FRB.

2.    Pra FRB membahas :

1)   Sinkronisasi data (RK dan berkas permohonan).

2)   Kelengkapan persyaratan.

3)   Ketersediaan kanal frekuensi.

Catatan: khusus LPK harus dilengkapi dengan koordinat lokasi pemancar yang direkomendasikan oleh Balai/Loka Monitoring setempat.

4)   Penetapan waktu pelaksanaan FRB.

3.    Apabila saat pelaksanaan Pra FRB masih terdapat kekurangan persyaratan maka Pra FRB meminta pemohon untuk melengkapi kekurangan persyaratan melalui KPID  selambat-lambatnya 15 hari kerja. RK dan berkas permohonan dikembalikan kepada KPID.

4.    Pra FRB tidak memutuskan suatu permohonan disetujui atau ditolak.

 

II.    HASIL PRA FRB

1.    Hasil Pra FRB berupa usulan kepada FRB dengan mempertimbangkan terpenuhinya aspek administrasi, data teknik dan program siaran.

2.    Hasil Pra FRB dituangkan dalam Risalah dan dibuat dalam rangkap 5 (lima), diparaf dan ditandatangani oleh unsur-unsur peserta Pra FRB.

3.    Risalah masing-masing diberikan kepada Ditjen PPI, Ditjen SDPPI, UPT Ditjen SDPPI, KPI Pusat dan KPID.

4.    Risalah Pra FRB sebagai dasar pertimbangan dalam pembahasan FRB.

5.    Permohonan yang dibawa ke FRB adalah permohonan yang telah mendapat pertimbangan Pra FRB.

 

 

--------oo00oo--------

 

 

PETUNJUK PELAKSANAAN  

FORUM RAPAT BERSAMA  (FRB)

 

I.      UMUM

A.     Dasar Hukum

Peraturan Menteri Kominfo Nomor 28 Tahun 2008 Tentang Tata Cara dan Persyaratan Perizinan Penyelenggaraan Penyiaran.

B.     Maksud dan Tujuan

FRB adalah suatu wadah koordinasi antara Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Pemerintah di Tingkat Pusat yang berwenang memutuskan untuk menerima atau menolak permohonan izin penyelenggaraan penyiaran dan perpanjangan izin penyelenggaraan penyiaran. Hasil Forum Rapat Bersama (FRB) selanjutnya sebagai dasar bagi Menteri untuk menerbitkan izin penyelenggaraan penyiaran.

 

II.      PESERTA DAN LOKASI FORUM RAPAT BERSAMA

A.     Peserta Forum Rapat Bersama

1.          Peserta FRB terdiri dari Pemerintah, KPI, dan/atau instansi terkait.

2.          Unsur Pemerintah terdiri dari:

a.       Ditjen PPI

b.       Ditjen SDPPI; dan

c.       UPT terkait (Balai/Loka Monitoring)

3.    Unsur KPI terdiri dari :

a.       KPI Pusat; dan

b.       KPI Daerah terkait

c.       Apabila KPI Daerah belum terbentuk atau tidak dapat menjalankan fungsinya sesuai peraturan perundang-undangan maka unsur KPI Daerah diwakili oleh KPI Pusat.

B.     Lokasi Forum Rapat Bersama

Forum Rapat Bersama dapat dilaksanakan di Jakarta atau di daerah lain dalam wilayah Indonesia.

 

III.      PERSIAPAN FORUM RAPAT BERSAMA

1.       Sebelum dilaksanakan FRB terlebih dahulu dilaksanakan rapat koordinasi persiapan (Pra-FRB) untuk membahas kelengkapan persyaratan dan ketersediaan frekuensi.

2.       Permohonan yang dibahas dalam FRB adalah permohonan yang sudah mendapat pertimbangan Pra FRB.

3.       Ditjen PPI menyiapkan data lembaga penyiaran yang sudah dibahas dalam Pra FRB dengan persyaratan yang sudah lengkap dalam bentuk Matriks dan disampaikan kepada Ditjen SDPPI dan kepada KPI selambat-lambatnya 1 (satu) minggu sebelum pelaksanaan FRB.

 

IV.      PELAKSANAAN FORUM RAPAT BERSAMA

1.       FRB dilaksanakan secara tertutup.

2.       FRB dipimpin oleh Pemerintah (Pejabat Eselon I) didampingi oleh Komisioner KPI Pusat.

3.       FRB membahas permohonan yang sudah dibahas dalam Pra FRB dengan persyaratan yang sudah lengkap.

 

V.      PENGAMBILAN KEPUTUSAN  DALAM FRB

1.       Metode pengambilan keputusan dilakukan dengan musyawarah mufakat.

2.       Bentuk Keputusan FRB adalah sbb:

a. Menyetujui permohonan IPP;

b. Menolak permohonan IPP;

c. Seleksi.

3.       Permohonan IPP disetujui dengan kriteria sbb:

a.         Untuk LPS, disetujui apabila memenuhi syarat ada RK dari KPID, tersedia alokasi frekuensi dalam Peluang Usaha, dan berkas permohonan lengkap.

b.         Untuk LPK, disetujui apabila memenuhi syarat ada RK dari KPID, secara teknis frekuensi memungkinkan, baik untuk 1 LPK maupun untuk time sharing, dan berkas permohonan lengkap

c.         Untuk LPB terrestrial, disetujui apabila memenuhi syarat ada RK dari KPID, tersedia alokasi frekuensi dalam Peluang Usaha, dan berkas permohonan lengkap.

d.         Untuk LPB Kabel dan satelit disetujui apabila memenuhi syarat ada RK dari KPID, tersedia dalam Peluang Usaha, dan berkas permohonan lengkap.

e.         Untuk LPP Lokal, disetujui apabila memenuhi syarat ada RK dari KPID, tersedia alokasi frekuensi dalam Peluang Usaha, memiliki Perda (Sekurang-kurangnya Pergub, Perbup, atau Perwali), dan berkas permohonan lengkap.

4.        Permohonan IPP ditolak dengan kriteria sbb:

a.         Untuk LPS, apabila frekuensi tidak tersedia sesuai dengan Peluang Usaha;

b.         Untuk LPK, apabila secara teknis tidak memungkinkan;

c.         Untuk LPB terestrial, apabila frekuensi tidak tersedia sesuai dengan Peluang Usaha;

d.         Untuk LPB Kabel dan Satelit, apabila tidak ada Peluang Usaha dan tidak memenuhi standar perangkat teknis;

e.         Untuk LPP Lokal, apabila tidak tersedia frekuensi dan tidak memiliki Perda (Sekurang-kurangnya Pergub, Perbup, atau Perwali).

5.       Seleksi dilakukan dengan kriteria sbb:

a.       Untuk LPS, apabila jumlah RK melebihi ketersediaan kanal frekuensi yang tercantum dalam peluang usaha;

b.       Untuk LPK, apabila jumlah RK melebihi ketersedian frekuensi sesuai analisa teknis dan tidak ada kesepakatan untuk time sharing.

c.       Untuk LPB Terestrial, apabila jumlah RK melebih ketersediaan kanal frekuensi yang tercantum dalam peluang usaha.

d.       Untuk LPB Kabel atau Satelit, apabila jumlah RK melebihi ketentuan yang tercantum dalam peluang usaha.

 

VI.      KEPUTUSAN FRB

1.       Keputusan FRB dituangkan dalam Berita Acara dan dibuat dalam rangkap 5 (lima), diparaf oleh unsur-unsur peserta FRB serta ditandatangani oleh Pemerintah dan KPI.

2.       Berita Acara dilaporkan kepada Menteri dan Ketua KPI Pusat sebagai dasar persetujuan atau penolakan permohonan IPP.

 

 

--------oo00oo--------

 

 

PETUNJUK PELAKSANAAN

EVALUASI UJI COBA SIARAN (EUCS) 

 

I.    UMUM

A.   Dasar Hukum

Peraturan Menteri Kominfo Nomor 28 Tahun 2008 Tentang Tata Cara dan Persyaratan Perizinan Penyelenggaraan Penyiaran.

B.   Maksud dan Tujuan

Merupakan evaluasi akhir Lembaga Penyiaran untuk memperoleh Izin Penyelenggaraan Penyiaran Tetap (IPP Tetap), yang meliputi konsistensi data sebagaimana yang diajukan pada saat permohonan, pelaksanaan siaran pada masa uji coba, dan pemenuhan persyaratan yang diwajibkan baik administrasi, teknis, dan program siaran.

II.    TIM DAN LOKASI EVALUSI UJI COBA SIARAN (EUCS)

A.   TIM EUCS

1.        Tim EUCS terdiri dari Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), dengan mengundang Lembaga Penyiaran yang telah mengajukan EUCS serta telah memenuhi persyaratan EUCS.

2.      Unsur Pemerintah terdiri dari:

a.    Ditjen PPI

b.    Ditjen SDPPI; dan

c.    UPT terkait (Balai/Loka Monitoring)

3.   Unsur KPI terdiri dari :

a.    KPI Pusat; dan

b.    KPI Daerah terkait

c.    Apabila KPI Daerah belum terbentuk atau tidak dapat menjalankan fungsinya sesuai peraturan perundang-undangan maka unsur KPI Daerah diwakili oleh KPI Pusat.

 

B.   Lokasi

EUCS dapat dilaksanakan di ibukota provinsi atau kota lain dalam wilayah provinsi yang sama.

III.    PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN EUCS

A.   PERSIAPAN EUCS

1.    Lembaga Penyiaran wajib mengajukan permohonan kepada Menteri Kominfo, Ketua KPI Pusat dan KPI Daerah untuk dilakukan evaluasi uji coba siaran paling lambat 2 bulan sebelum habis masa berlaku IPP Prinsip.

2.    Permohonan diajukan dengan melampirkan salinan dokumen sesuai Permen 28/2008 yang sekurang-kurangnya terdiri dari:

2.1.        Aspek Administrasi:

2.1.1.    IPP Prinsip yang masih berlaku

2.1.2.    ISR

2.1.3.    Akta pendirian dan akta perubahan terakhir beserta pengesahannya

2.1.4.    Keterangan domisili

2.1.5.    Status penggunaan gedung, Foto kantor, studio dan pemancar

2.2.        Aspek Teknis:

2.2.1.    Sertifikasi perangkat

2.2.2.    Khusus LPK harus dilengkapi dengan koordinat lokasi pemancar yang direkomendasikan oleh Balai/Loka Monitoring setempat

2.3.        Aspek Program:

2.3.1.    Untuk lembaga penyiaran radio meliputi:

2.3.1.1.        Profil program

2.3.1.2.        Segmentasi pemirsa

2.3.1.3.        Format siaran

2.3.1.4.        Komposisi siaran

2.3.1.5.        Materi siaran

2.3.1.6.        Bentuk materi siaran

2.3.1.7.        Jadwal program siaran

2.3.2.    Untuk lembaga penyiaran televisi meliputi:

2.3.2.1.        Format siaran

2.3.2.2.        Persentasi siaran lokal dan asing

2.3.2.3.        Penggolongan mata acara siaran

2.3.2.4.        Sumber materi siaran

2.3.2.5.        Jadwal program siaran

2.3.3.Rekaman siaran minimal selama 2 minggu berturut-turut yang telah disiarkan pada masa uji coba siaran.

3.    Dokumen permohonan asli ditunjukkan pada saat pelaksanaan EUCS.

B.   PELAKSANAAN EUCS

1.    Permohonan yang dibahas dalam EUCS adalah permohonan yang telah memenuhi persyaratan EUCS dan telah mendapat rekomendasi untuk mengikuti EUCS dari Ditjen SDPPI dan KPI.

2.    EUCS dilaksanakan oleh Ditjen PPI paling lambat 1 minggu setelah menerima rekomendasi dari Ditjen SDPPI dan KPI.

3.    Materi EUCS meliputi:

1)     Persyaratan administrasi;

2)     Data teknik penyiaran; dan

3)     Program siaran

4.    Proses penilaian aspek administrasi dilakukan oleh Ditjen PPI, aspek teknis oleh Ditjen SDPPI, dan aspek program siaran dilakukan oleh KPI.

5.    Apabila salah satu aspek dinyatakan tidak lulus, maka hasil rekomendasi tim EUCS adalah tidak lulus.

6.    Tim evaluasi uji coba siaran dapat memberi rekomendasi kepada Lembaga Penyiaran yang tidak memenuhi kriteria evaluasi uji coba siaran untuk diberi kesempatan memenuhi kriteria evaluasi tersebut dan dapat diperpanjang paling lama 6 (enam) bulan untuk jasa penyiaran radio dan 1 (satu) tahun untuk jasa penyiaran televisi.

7.    Tim evaluasi uji coba siaran dapat memberi rekomendasi tidak lulus terhadap Lembaga Penyiaran yang tidak memenuhi kriteria evaluasi uji coba siaran.

8.    Tim EUCS menyampaikan kepada Menteri Kominfo hasil evaluasi lembaga penyiaran berupa rekomendasi lulus atau tidak lulus.

9.    Hasil EUCS diberitahukan melalui surat kepada Menteri Kominfo oleh Ketua Tim EUCS dengan ditembuskan kepada Ditjen PPI, Ditjen SDPPI, KPI Pusat, KPID, dan Balmon/Loka SFR.

IV.    HASIL EUCS

1.     Pakta Integritas ditandatangani oleh seluruh anggota Tim EUCS.

2.     Hasil EUCS dituangkan dalam Berita Acara dan dibuat dalam rangkap 5 (lima), diparaf dan ditandatangani oleh seluruh anggota Tim EUCS.

3.     Berita Acara masing-masing diberikan kepada Ditjen PPI, Ditjen SDPPI, UPT Ditjen SDPPI, KPI Pusat dan KPI Daerah.

4.     Tim EUCS melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada Menteri Komunikasi dan Informatika.

 

--------oo00oo--------